UGM Bina Undana Jadi “Health Promoting University”, Wujudkan Kampus Sehat

“Kita berharap dengan adanya HPU ini bisa mendorong semua civitas akademika, baik dosen, pegawai maupun mahasiswa untuk melakukan perilaku sehat, sehingga ke depan semua sehat, dan semua jadi produktif,” harap Dokter Nicho.

Universitas Nusa Cendana (Undana) sebagai salah satu Perguruan Tinggi (PT) kembali terpilih untuk menandatangani komitmen penyelenggaraan kampus sehat di Universitas Gadjah Mada (UGM) tanggal 9 Oktober lalu. Dengan adanya penandatanganan tersebut, UGM resmi membina seluruh aktivitas ‘Health Promoting University’ (HPU) Undana. Hal tersebut disampaikan Ketua Tim HPU Undana, Dr. dr. Nicholas Edwin Handoyo, M. Med. Ed kepada media ini di Hotel Neo Aston Kupang, Selasa (12/10/2021) siang.

Dokter Nicho-sapaan akrab Dr. dr. Nicholas E. Handoyo menyatakan, UGM memiliki kerjasama dengan Kemenkes untuk mengembangkan HPU ke berbagai universitas di Indonesia. Terdapat 5 (lima) PT di Indonesia yang menjadi pendamping terhadap kegiatan tersebut, yakni Institut Pertanian Bogor, Universitas Sumatera Utara, Politeknik Kesehatan Yogyakarta, Universitas Airlangga, dan UGM. Pihaknya menjelaskan, HPU adalah sebuah konsep dimana upaya promotif dijalankan di universitas dan mendorong semua civitas akademika berperilaku sehat.

Ketua Tim HPU Undana, Dr. dr. Nicholas Edwin Handoyo, M. Med. Ed (tiga dari kiri) ketika mengikuti penandatanganan komitmen penyelenggaraan kampus sehat di UGM, Yogyakarta tanggal 9 Oktober lalu.

Pihaknya menyebut, jika berkaca pada universitas lain, maka yang menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan mahasiswa adalah cepat mendapat pekerjaan. Namun, kata dia, ada alumni yang ternyata tidak berhasil karena gagal pada aspek kesehatan ketika melamar di dunia kerja. Hal ini menjadi dasar, mengapa perlu mengembangkan HPU di Undana, agar ke depan lulusan Undana tidak gagal dalam tes-tes kesehatan.

Selain mahasiswa, jelas  Dokter Nicho, dosen dan pegawai pun harus terlibat dalam kegiatan HPU. Pasalnya, pada beberapa kasus, misalnya, terdapat pegawai yang meninggal dunia, atau sakit kemudian dipindahtugaskan. Hal ini menunjukan kurangnya produktifitas dalam bekerja yang diakibatkan gangguan kesehatan. “Kita berharap dengan adanya HPU ini bisa mendorong semua civitas akademika, baik dosen, pegawai maupun mahasiswa untuk melakukan perilaku sehat, sehingga ke depan semua sehat, dan semua jadi produktif,” harapnya.

Dokter Nicho juga menyebut, dua tahun lalu Undana pernah melakukan penandatanganan HPU dengan UGM, namun sejak pandemi covid-19, seluruh kegiatan HPU di Undana diarahkan ke penanganan pandemi tersebut. Karena itu, kali ini Undana ikut diundang untuk menggerakkan kembali kegiatan tersebut.

Sasaran HPU

Terkait dengan sasaran kegiatan HPU, dosen FK Undana ini menjelaskan, dosen, mahasiswa dan pegawai akan menjadi sasaran dari kegiatan. Pada tahap awal, tim HPU Undana, sebut Dokter Nicho, terdiri atas belasan orang, diantaranya 6 (enam) orang dari Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan, 4 (empat) orang dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, 2 (dua) orang dari Fakultas Hukum dan 1 orang dari Fakultas Sains dan Teknik. Serta beberapa orang dari Bagian Kerjasama Rektorat Undana. Dalam waktu dekat, lanjut dia, upaya menggerakkan HPU di Undana akan segera dilakukan.

Empat Pokja

Pihaknya menjelaskan, terdapat 4 (empat) pokja dalam kegiatan HPU ini, yaitu literasi kesehatan, peningkatan aktivitas fisik, kesehatan mental dan zero tolerance kekerasan, perundungan dan pelecehan. Ia menyebut, sebetulnya terdapat 8 (delapan) pokja, tetapi Undana mengambil 4 (empat) pokja untuk pilot project. “Karena dari Kemenkes memberikan dana Rp 30 juta untuk masing-masing PT yang didampingi untuk mereka menginisiasi kegiatannya. Tapi, Rp 30 juta ini waktunya singkat, dari sekarang sampai November,” jelasnya.

Selain empat pokja tersebut, ungkap dia, terdapat lima kegiatan dari hasil pengembangan proposal dan penganggaran. “Hampir setiap hari kita sudah lakukan meeting pelatihan, mengembangkan proposal, merencanakan kegiatan, dan membuat penganggarannya. Akhirnya disepakati ada 5 kegiatan. Dan, ini akan bergerak pada saat ini hingga November mendatang, terkait pertanggungjawabannya,” jelasnya.

Tiga dari lima kegiatan tersebut, ungkap Dokter Nich, yakni: Pertama, pengembangan laskar sehat. Sasaran laskar sehat, sebut Dokter Nicho adalah melatih mahasiswa dalam Unit Kegiatan Kemahasiswaan (UKM). Fokus dari kegiatan tersebut adalah mental health, yakni mendampingi mahasiswa lain yang mungkin kesulitan di dalam aktivitas akademiknya sehingga mengalami stress. Dengan demikian, kecemasan atau stress dapat diatasi.  Kedua, medical check-up. Sasarannya, lanjut Dokter Nicho, berada di empat tempat, yakni FK, FKH, FKM dan Rektorat. Empat tempat ini, lanjut dia, akan dilakukan medical check-up terhadap tenaga kependidikan, mahasiswa dan dosen. “Kita melakukan pemeriksaan fisik, tensi atau gula. Jadi, kita tahu derajat kesehatannya apa,” ujarnya.

Ketiga, needs assessment, yakni menggali kebutuhan masing-masing tiap fakultas. Dr. Nich menyebut, dari hasil needs assessment yang disebarkan di FK, FKH dan FKM, ternyata sekitar 80 persen civitas akademika tidak makan sayur dan tidak makan buah, 70 persen tidak olah raga, kemudian 10 persen mengalami depresi dan cemas. “Dari situ kita bisa menyebutkan bahwa civitas akademika kita tidak sehat. Sehingga kita berpikir bahwa memang kegiatan ini perlu dilakukan di Undana,” imbuhnya. Karena itu, ia berharap semua civitas akademika, baik dosen, pegawai maupun mahasiswa bisa berpartisipasi dan bisa mendapatkan manfaat dari kegiatan HPU tersebut. “Kalau kita betul-betul pelajari, maka manfaatnya besar. Kalau semuanya sehat, otomatis semua produktif, semua bisa lebih bahagia dan sejahtera,” pungkasnya.

Hal senada disampaikan Dosen FK Undana, Rr. Listyawati Nurina, S.Si.,M.Sc.,Apt. Ia katakan, apa yang dilakukan Dokter Nicho sebagai sebuah langkah maju. Karena itu, butuh dukungan dan komitmen dari semua stakeholder, baik dosen, pegawai dan mahasiswa. Ia menyebut, selain menghasilkan lulusan yang cerdas dan berkompeten, faktor kesehatan juga menjadi hal yang sangat penting. Sebab, terkadang ada lulusan dari PT yang tidak lulus saat melamar di dunia kerja, karena gugur pada aspek kesehatan, meskipun lulus pada tes pengetahuan. Hal tersebut, menurutnya sangat disayangkan. “Kita sudah berusaha untuk menyediakan lulusan yang berkompeten yang baik, tetapi pada akhirnya kita lupa kalau kita juga harus pikirkan kesehatannya,” tandasnya.

Dengan adanya HPU ini, Rr. Rina berharap, semua civitas bisa merespons kegiatan tersebut dengan berolahraga sebelum masuk dan bekerja di kantor. Pasalnya, lanjut lanjut Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum dan Keuangan FK, di tengah muncul berbagai makanan siap saji, perlu keseimbangan antara makan dan berolahraga. Karena itu, jika dimungkinkan perlu budayakan olahraga di dalam lingkungan kampus, semisal jalan kaki. Karena itu, perlu fasilitas pendukung seperti jogging track dan lainnya. Selain itu, perlu dikombinasikan dengan kegiatan olahraga seperti basket, futsal dan lainnya dalam kampus. Kendati demikian, pihaknya menyadari bahwa awal dari kegiatan yang digagas Dokter Nicho mungkin akan mengalami kesulitan, tetapi dengan dukungan dari pimpinan Undana, dosen, pegawai dan mahasiswa, pihaknya optimis kegiatan HPU bisa berjalan baik di Undana. (rfl)

Author

Editor LP2M

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *