Rektor Buka Rakor Penyusunan Laporan PPG LPTK Undana 2021

Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana) membuka secara resmi rapat koordinasi (rakor) penyusunan laporan Pendidikan Profesi Guru (PPG) Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK)Undana di Hotel Aston Kupang yang dilaksanakan pada Selasa (21/12) hingga Rabu (23/12/2021). Hadir, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Dr. Malkisedek Taneo, M. Si, para wakil dekan Ketua Prodi PPG FKIP Undana, Dr. I Made Parsa, M. Pd, para instruktur, guru pamong, maupun panitia rakor PPG Undana.

Rektor Undana, Dr. drh. Maxs U. E. Sanam, M. Sc ketika membuka rakor tersebut menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan PPG di Undana. Salah satunya, terkait dengan adanya kepercayaan Kemendikbudristek kepada Undana untuk tetap menyelenggarakan PPG. Apalagi, lanjut rektor, pada angkatan ke tiga dan empat, terdapat banyak mahasiswa dari luar NTT, terutama Bali dan NTB.

Hal tersebut, imbuh Dr. Maxs, sebagai bagian dari kewajiban untuk memberikan perhatian tidak saja kepada para guru di NTT, tetapi di luar NTT. Dengan begitu, ungkap rektor, upaya meningkatkan kualitas Pendidikan di NTT maupun Indonesia akan semakin bagus. “Kita tidak berpikir sempit, tapi kita juga harus memberi perhatian agar guru di NTT juga harus mendapat bagian dari kebijakan pemerintah untuk meningkatkan Pendidikan, yang ujungnya, kualitas Pendidikan di NTT menjadi semakin baik. Ini adalah target tahun 2045 mendatang,” beber Dr. Maxs.

Peserta Rakor PPG Undana serius mengikuti pembukaan oleh Rektor Undana, Dr. Maxs Sanam di Hotel Aston Kupang, Selasa (21/12/2021).

Hadapi Bonus Demografi

Lebih lanjut, jelas Rektor Undana, Indonesia akan memasuki bonus demografi yang dimulai tahun 2030, di mana usia angkatan produktif lebih banyak dari usia non produktif. Karena itu, generasi saat ini harus dibekali dengan pendidikan yang berkualitas, agar Indonesia bisa memaksimalkan bonus demografi. “Sangat disayangkan kalau kita lewatkan bonus demografi yang (mungkin) terjadi satu kali sepanjang sejarah kehidupan suatu negara. Karena itu, mahasiswa dibekali dengan berbagai kompetensi agar mampu menghadapi bonus demografi,” tandasnya.

Untuk menyiapkan generasi berkualitas, imbuhnya, saat ini Kemendikbudristek memiliki program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Menurutnya, MBKM tersebut dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk mengikuti PKL dan magang agar dapat meningkatkan kompetensi mahasiswa di pelbagai bidang. Ia menambahkan, FKIP sebagai simbahnya guru perlu mendidik mahasiswa agar mampu menghadapi tantangan dan bonus demografi yang dimulai 2030 mendatang. “FKIP itu simbahnya guru. Kita mendidik guru yang kemudian mendidik orang lain. Energi terutamanya adalah keteladanan yang kita berikan kepada mereka yang berada pada garda depan, untuk menjadi manusia yang bermartabat bagi bangsa dan negara,” beber Rektor Undana.

Pihaknya berharap dengan adanya kerjasama dan komitmen bersama semua pihak, maka PPG Undana akan semakin berkualitas. Dengan begitu, lanjut Rektor Undana, LPTK Undana akan menjadi satu dari 75 LPTK di Indonesia yang berkualitas dan membanggakan.

Optimis Buka Enam Bidang

Sementara Dekan FKIP Dr. Malkisedek Taneo dalam sambutannya menyatakan, LPTK Undana optimis bisa membuka enam bidang lagi pada Prodi PPG FKIP Undana, di mana saat ini hanya terdapat 12 bidang ilmu yang menyelenggarakan PPG. Sementara enam bidang lainnya belum terakomodir pada PPG. Enam bidang pada Prodi di FKIP yang belum masuk skema PPG adalah bidang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sejarah, Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi (PJKR), dan Teknik Elektro. Karena itu, paling lambat, tanggal 28 Desember, pihaknya akan mengajukan surat ke Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) agar 18 bidang yang terdapat pada Prodi di FKIP bisa diakomodir dalam PPG Undana.

Untuk tahun 2021, jelas Dr. Malkisedek, PPG Undana tidak mengikuti angkatan pertama, karena Kota Kupang maupun NTT dilanda badai Seroja. Karena itu, PPG Undana hanya mengikuti PPG tahap dua, tiga dan empat. Ia menyebut, pada angkatan dua, tiga dan empat, ada mahasiswa PPG Undana yang berasal dari NTB dan Bali.

Dijelaskan, PPG sebenarnya oleh pemerintah dijadikan sebagai pintu terakhir untuk mendorong peningkatan kualitas pembelajaran di Indonesia. “Kami di PPG, disyaratkan seperti itu. Hal ini muncul seiring dengan kebijakan bidang pendidikan dalam rangka mencapai generasi emas Indonesia 2045, yakni pada usia 100 tahun Indonesia merdeka,” jelasnya.

Ia menambahkan, pelaksanaan PPG didasarkan pada UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Salah satu empat kriteria yang harus dimiliki dosen, sebut Dekan FKIP, adalah memiliki sertifikat pendidik. “Artinya, teman-teman berdiri di depan kelas sudah harus memiliki sertifikat pendidik baru dianggap guru profesional,” tandasnya.

Tetap Dipercaya Kemendikbudristek

Sejak pemerintah melaksanakan PPG tahun 2012 lalu, jelas Dr. Malkisedek, Undana tetap dipercaya Kemendikbudristek menjadi LPTK hingga kini. Hal itu menurutnya, karena Undana telah memenuhi syarat untuk melaksanakan PPG. Karena itu, pihaknya berharap ke depan PPG Undana tidak lagi dalam skema PPG penugasan, tetapi PPG mandiri, sehingga dapat dibiayai oleh mahasiswa, bukan oleh pemerintah semata.

Lebih lanjut, imbuhnya, PGG Undana mendapat banyak dukungan dari berbagai pihak. Karena itu, pada kesempatan itu, ia menyampaikan terima kasih kepada Gubernur NTT, Dinas Pendidikan NTT, maupun pimpinan Undana dalam hal ini Rektor Undana, Dr. Maxs maupun mantan Rektor Undana Prof. Fred Benu. Menurutnya, dengan komitmen dan dukungan tersebut, PPG Undana bisa dilaksanakan hingga saat ini. (rfl)

Author

Editor LP2M

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Comments
    Categories
    Archives