Perdana Pimpin Wisuda Undana, Rektor Dr. Maxs Bangun Optimisme dalam Transisi dan Disrupsi

  • 902 Lulusan Diwisuda

Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana) Dr. drh. Maxs U. E. Sanam, M. Sc untuk pertama kalinya memimpin wisuda doktor, magister, profesi dan sarjana. Dr. Maxs memimpin wisuda ke IV periode Desember 2021 Undana, usai dirinya dilantik Sesjen Kemendikbud menjadi Rektor Undana periode 2021-2025 tanggal 6 Desember lalu.

Wisuda ke-126 yang digelar hybrid  (daring dan luring) itu berlangsung di Auditorium Undana, Selasa (14/12/2021). Hadir, para anggota senat, perwakilan guru besar, sejumlah pimpinan tingkat rektorat, rohaniawan dan juga jajaran Dharma Wanita Persatuan Undana.

Rektor di hadapan 902 lulusan yang diwisuda menyampaikan pidato berjudul Optimisme dan Transisi Disrupsi. Menurutnya, Undana saat ini berada pada awal transisi kepemimpinan dari Rektor Undana periode 2017-2021 kepada dirinya yang menjabat 2021-2025. Dr. Maxs menyebut, selama 8 (delapan) tahun kepemimpinan Prof. Fred Benu, Undana telah mengalami kemajuan yang nyata dalam berbagai aspek, antara lain, manajemen (tata kelola), penataan aset, dan infrastruktur, peningkatan kuantitas dan kualitas SDM.

Rektor Undana, Dr. drh. Maxs U. E. Sanam, M. Sc memindahkan tali kucir salah satu wisudawati terbaik pada wisuda periode ke empat Desember 2021 di Auditorium Undana, Selasa (14/12).

Dalam aspek manajeman, terjadi peningkatan status akreditasi prodi dari C menjadi B, dan dari B menjadi A. Undana juga berhasil meningkatkan status dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Satker murni menjadi Satker Badan Layanan Umum (BLU). Di samping itu, pengesahan Organisasi Tata Kerja (OTK) baru Undana berdasarkan Permendikbudristek Nomor 25 tahun 2021. “Dari segi penataan aset, Prof. Fred Benu berani untuk merelokasi pemukiman dalam kampus, aset diluar kampus berhasil dipastikan status hukumnya, termasuk lahan utama kampus Penfui ini,” ungkapnya.

Dalam hal infrastruktur, jelas Dr. Maxs, Undana berhasil membangun gedung perkantoran maupun perkuliahan baru yang tersebar di beberapa fakultas, seperti Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Sains dan Teknik (FST), Fakultas Peternakan (Fapet), Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP). Begitu pun dengan penunjang kompleks lahan kering (laker) satu dan dua, kompleks lab lapangan Oenitu, Student Centre, kompleks BPU, Klinik Rumah Sakit Hewan Undana, gedung Micro Teaching, ICT Centre, dan gadung Auditorium. Disamping gedung baru tersebut, lanjut Rektor Undana, ruang kelas pun direnovasi dan dilengkapi dengan perangkat teknologi pembelajaran modern.

“Semua yang telah dicapai dan dibangun oleh Prof. Fred Benu dan juga oleh Rektor Undana sebelumnya, merupakan suatu legasi yang perlu kita jaga, kita isi dan kembangkan, sehingga menjadikan Undana, suatu institusi pendidikan yang lebih maju, bekontribusi maksimal dan memberikan layanan prima excellent governance yang membanggakan, tidak saja bagi civitas akademika Undana, tetpi juga bagi masy Indonesia dan dunia, khususnya NTT,” sambung mantan Wakil Rektor I Bidang Akademik itu.

Rektor juga membahas road map pengembangan jangka menengah dan jangka panjang Undana, yang saat ini harus disiapkan, diantaranya, menjadi PTN BH pada saatnya, dengan memenuhi lima syarat sebagaimana tertuang dalam Permendikbud Nomor 4 Tahun 2020. Selain itu, sebut Dr. Maxs, hasil publikasi internasional Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) juga harus tinggi, mahasiswa yang berkompetisi di tingkat nasional, kerjasama dengan dunia industry, lembaga atau masyarakat.

Rektor Undana, Dr. drh. Maxs U. E. Sanam, M.Sc memberikan penghargaan kepada para wisudawan/ti terbaik pada wisuda ke empat periode Desember di Auditorium Undana, Selasa (14/12).

Rektor Undana memaparkan, pada periode 2030-2040, Indonesia akan mengalami masa bonus demografi, yaitu jumlah penduduk usia produkf 15-64 tahun lebih besar dibanding penduduk usia tidak produktif. Pada periode tersebut, penduduk usia produktif diprediksi mencapai 64 persen dari jumlah penduduk yang diproyeksikan menjadi 297 juta jiwa. “Agar Indonesia dapat memetik manfaat dari bonus demografi tersebut, ketersediaan SDM usia produktif yang melimpah harus diimbangi dengan peningkatan kualitas dari sisi pendidikan dan keterampilan, termasuk dalam keterbukaan pasar tenaga kerja,” urainya.

Dr. Masx menambahkan, di tengah harapan dan optimisme akan pencapaian visi Indonesia tahun 2055 dan adanya bonus demografi, melekat juga tantangan dan masalah yang sedang dan akan dihadapi. Dunia, tidak terkecuali Indonesia mengalami apa yang disebut disrupsi ganda, yaitu pergeseran pekerjaan akibat digitalisasi atau automasi yang dipercepat dengan terjadinya pandemic covid-19.

Ia mengungkapkan, akan terjadi pengurangan tenaga kerja di seluruh dunia, akibat automasi, 47 persen tenaga kerja akan digantikan oleh mesin. Pada tahun 2025, porsi terbesar adalah pekerja kelas menengah yang terdampak sebesar 44 persen. World Economic Forum, lanjut Rektor Undana, memberi data yang lebih moderat, yaitu kurang lebih 85 juta orang di dunia yang terdampak. Pekerjaan yang akan tergantikan antara lain customer services, data entry, admin, pekerja pabrik, penjaga pintu tol, pekerja SPBU, teller Bank, travel agent dan travel.

Survei McKinsey Global Surveys (2019), menunjukkan, akan muncul 33 persen pekerjaan baru di Indonesia, namun akan ada 23 juta pekerja yang berpotensi digantikan oleh robot. Sebaliknya, ada 44 juta pekerjaan baru yang akan tersedia. “Namun sayangnya, hanya 20 persen yang mampu mengisi tuntutan kompetensi pekerjaan baru tersebut, karena adanya tuntutan kompetensi dan bisnis proses yang berbeda dari jenis-jenis pekerjaan sebelumnya,” imbuh Dr. Maxs. Sebelum pandemic, data yang sama menunjukan, penggangguran di Indonesia berjumlah 7,07 juta jiwa. Pada Agustus 2021, meningkat menjadi 9,1 juta orang.

Sementara data Kadin (2020), menunjukan industri tekstil paling banyak menyumbang pengangguran 2,1 juta, transporatasi darat, pejerna restoran dan lainnya. Data menunjukkan, pengangguran di kota 6,7 persen, setelah pandemic data 2021 menunjukan naik 8,3 persen. Di desa, data 3,7 persen, setelah pandemic peningkatan 4,17 persen. Fakta menunjukkan, banyak perusahaan atau kantor yang membuka gudangnya di desa, seperti untuk petanian, peternakan dan lainnya. Orang kota berusaha traveling ke desa, untuk menghindai ancaman pandemic.

“Data dan kondisi yang dipaparkan diatas memberi gambaran kepada kita, bahwa desa akan menjadi ladang garapan yang aman dan nyaman serta sangat potensial bagi pengembangan pengusaha yang potensia bagi orang-orang muda, termasuk mereka yang diwisuda pada hari ini,” tandas Rektor Undana. Untuk menghadapi tantangan itu, reformasi pendidikan Merdeka Belajar saat ini sangat penting. Sebab, mahasiswa memiliki kesempatan untuk mempelajari pengetahuan dan kompetensi baru untuk memperkaya pengetahuan dan ilmu utamanya.

“Terobosan pemerintah melalui reformasi bidang pendidikan, khususnya pendidikan tinggi dengan program Merdeka Belajar, Kampus Merdeka (MBKM), menjadi sangat penting. Mahasiswa berkesempatan mempelajari keterampilan dan kompetensi-kompetensi baru untuk memperkaya pengetahuan di samping ilmu utamanya,” jelas Dr. Maxs. Hal ini dapat dilakukan baik di prodi lain di kampusnya sendiri, maupun di kampus lain. “Mereka juga diberi kesempatan untuk mempelajari keterampilan atau kompetensi teknis yang lebih relevan dan up to date, dengan mengikuti magang atau PKL di dunia industri, maupun dunia kerja dalam waktu 6 bulan,” ujarnya.

Disamping itu, skema kegiatan MBKM berupa kehadiran atau pelibatan praktisi industri dan para profesional dalam aktivitas tridharma kampus, dan keterlibatan dosen dalam praktek industri yang memiliki rekognisi tinggi akan menyelaraskan tuntutan kompetensi pasar kerja dengan kurikulum yang diterapkan dalam kampus. Karena itu, sebut Dr. Maxs, Undana melalui prodi dan fakultas, dengan dukungan kebijakan dan anggaran, menunjukkan komitmen yang kuat untuk menerapkan kurikulum berbasis MBKM ini pada semester-semester mendatang.

Terkait dengan pembelajaran di era pandemic ini, sudah dua tahun Undana lakukan pembelajaran dari rumah (work from home). “Sejak pertengahan September tahun ini, kita telah mencoba menerapkan pembelajaran tatap muka terbatas di dua fakultas sebagai pilot project, yakni FK dan FKH Undana. Hasil Pembelajaran Tatap Muka (PTM) ini harus segera dievaluasi produktifitas dan keamanannya. Kita berharap mulai semester genap 2021/2020, PTM terbatas ini akan diperluas pada fakultas lain dalam Undana,” terang mantan Dekan FKH Undana itu.

Untuk diketahui, pada wisuda ke 126 itu, Undana melepas 902 wisudawan/ti, yang terdiri dari 858 lulusan sarjana, 26 profesi 17 magister dan satu orang doktor. Secara keseluruhan, sejak Undana bediri tahun 1 september 1962, telah diluluskan 74. 964 orang begelar diploma, sarjana, profesi, magister dan doktor. (rfl/ovn)

Author

Editor LP2M

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Comments
    Categories
    Archives